Minggu, 09 Mei 2010

HOMOSEKSUAL DARI SEGI MEDIS

Penulis : Al Ustadz Abu Abdirrohman 'Amr, dr. Ummu Aisyah

“Seorang muslim yang kuat lebih baik daipada muslim yang lemah” kekuatan ini masuk didalamnya kekuatan lahir dan batin. Kekuatan lahir menjadi baik bila ditopang dengan kekuatan batin. Lahir saja tidak cukup tanpa didukung dengan bathinnya. Pemuda yang sehat, sempurna fisiknya, akalnya, pengetahuannya,dan lahiriahnya bukan sebagai patokan kesempurnaan di dalam agama islam. Karena banyak sekali Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan kisah kisah orang orang yang kuat baik fisiknya hartanya balatentranya tetapi karena hati mereka tidak sehat, tidak mau tunduk kepada Yang Maha Kuasa maka mereka dihancurkan dan dibinasakan

Dan Rosululloh pernah bersabda: (menceritakan tentang sifat dan ciri ciri penghuni neraka mereka) adalah “orang yang kuat , angkuh dan sombong…”

Yang intinya, “kesehatan badan juga harus di dukung dengan sehatnya hati.” Masalah hati adalah masalah jiwa yang ada pada diri manusia, jiwa yang tegar, bersabar, optimis, yang tidak menyelisihi wahyu dan petunjuk Allah subhanahu wataala adalah yang bertakwa .

Naluri manusia adalah mencintai lawan jenis. Itulah yang sudah diwahyukan didalam kitab suci yang mulia. Laki laki mencintai perempuan begitupula sebaliknya. Keluar daripada itu maka jiwanya sudah keluar dari apa yang di gariskan oleh wahyu ilahi.

Kegoncangan, kecemasan, gundah gulana dan buasnya jiwa dia mirip dengan hewan dan binatang yang tidak peduli terhadap petunjuk wahyu Sebagai penerang, petunjuk, pembimbing manusia dari kegelapan.

Hewan yang tidak mempunyai akal dan beban syariat agama kadang lebih baik dari mereka. Hewan tidak memiliki akal tapi manusia memiliki akal, hewan tidak dibebankan agama ttp manusia dibebankan agama. Hewan yang hidupnya hanya makan dan minum saja, tetapi manusia tidak hanya makan dan minum mereka dibebankan amanah dan tanggung jawab. Yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Yang Maha Kuasa.

Hawa nasfu yang di bimbing agar tidak menyerupai hewan yang bringas, dan buas siap memangsa yang lemah.

Nafsu yang di bimbing agama, adalah berhubungan seks dengan lawan jenis. Inilah yang akan menenangkan jiwa, dan hidupnya. Yang ia akan memadu cinta dengan kekasihnya, itulah ayat ayat kebesaran Allah azza wajalla.

Nafsu yang lain adalah dibangun di atas kegelapan yang penuh dengan kebuasan, emosi, dan kegoncangan. Yang mereka memilii nafsu hanya kepada sesama jenis. Laki laki yang mempunyai watak keras dan kuat lebih dia sukai daripada wanita yang memiliki sifat lemah dan lembut. Api di tambah api akan terbakar. Tidak akan ada ketenangan dan ketentraman. Apipun bertambah besar yang akan merusak lingkungan di sekelilingnya.

Postur tubuh laki laki yang memiliki kelamin yang khusus, yang diperuntukan kepada lawannya. Tidak dia hiraukan melainkan dia nikmati bersama lelaki yang lain bertambah nafsu dan kenikmatan. Demikian pula perempuan yang menikmati perempuan lainnya, saling memegang satu sama lain, menyetubuhi satu dengan yang lainnya tidak dia hiraukan melainkan bertambah nafsu dan lezat. Dirinya gelisah bila kekasihnya jauh darinya, kecemasan, dan gundah gulana yang terus menghantui dirinya, khawatir dan cemas dan bertambah kacau pikiran dan akal sehatnya.

Bukan hanya itu, kadang mereka warnai kasih dan cinta nya dengan pembunuhan dan darah. Yaitu tatkala kekasihnya di ambil orang, atau direbut yang lain. Dengan mati matian diapun akan membalasnya dengan berbagai macam cara yang di halalkannya. Inilah bentuk penyimpangan jiwanya dari jiwa yang normal dan sehat.

Belum lagi, ditambah dengan dendam membara yang sudah mendarah daging. itu sebagian dari mereka. semoga Allah menjaga dan menerangkan kaum muslimin dari kegelapan mata dan hati. amin


Seorang pemuda remaja yang sehat baik fisik maupun psikis-nya mempunyai arti yang sangat penting bagi masa depan suatu bangsa yang baik, khususnya sebagai generasi penerus pewaris nabi yaitu dakwah Islam agama yang haq di sisi Allah subhanahu wa ta’ala kepada umat. Dibandingkan dengan kesehatan fisik, kesehatan psikis seseorang lebih penting untuk terwujudnya hal tersebut. Dapat kita lihat bahwa seseorang yang mempunyai penyakit/gangguan pada fisiknya dengan psikis yang sehat, penyakit tersebut tidaklah memperparah psikisnya bahkan masih bisa tetap produktif, namun jika yang terjadi adalah sebaliknya yaitu mempunyai gangguan/penyakit secara psikis, hal ini dapat membahayakan fisiknya yang sebelumnya sehat, seperti contohnya AIDS sebagai akibat adanya gangguan jiwa/penyimpangan psikoseksual.

Persentasi

Data WHO dan UNAIDS memperkirakan jumlah orang terinfeksi HIV/AIDS pada tahun 2008 mencapai 33,4 juta di seluruh dunia. Jumlah tersebut meningkat 20 persen dari tahun 2000 dengan prevalensi tiga kali lebih besar daripada tahun 1990. Menurut KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional(, di Indonesia kasus HIV/AIDS bukan soal remeh, dengan lebih dari 50 persen orang yang terinfeksi berada dalam kelompok usia remaja 15-29 tahun. Di Papua, HIV telah menjadi epidemic, prevalensinya pada orang dewasa di Papua mencapai 2,4 persen, yang merupakan angka tertinggi di Indonesia. Proporsi penularan tersebut sepanjang triwulan pertama 2009, melalui hubungan seksual baik heteroseksual maupun homoseksual mencapai 60 persen dengan angka kejadian pada homoseksual lebih tinggi dibandingkan dengan heteroseksual, melalui jarum suntik 30 persen, sedangkan sisanya melalui transfusi darah dan dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya. Sementara itu, berdasarkan jenis kelamin, rasio kasus AIDS laki-laki dan perempuan adalah 3:1. Dan dari hasil beberapa penelitian diketahui bahwa penyimpangan perilaku seksual dikalangan pemuda remaja cukup tinggi, mereka yang sudah melakukan hubungan sex sebelum menikah berkisar dari 6,8% sampai 87,0% di DKI Jakarta dan 6,3% – 26,35% di DIY.( Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 ; Tempointeraktif Kesehatan 01/12/2009)

Istilah-Istilah Yang Perlu Diketahui
v Faktor psikoseksual
ialah semua faktor kejiwaan yang terganggu dalam diri penderita, yang selanjutnya memperburuk fungsi seksualnya. Diantaranya adalah factor identitas seksual, identitas gender, orientasi seksual, dan perilaku seksual (Synopsis Kaplan, 8ed; p:676-677)

v Seks, Seksualitas, Identitas Seksual

* Menurut dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG MARS, seks dapat dikelompokkan menurut beberapa dimensi. Di antaranya:
-Dimensi Biologis yang berkaitan dengan alat reproduksi. Di dalamnya termasuk pengetahuan mengenai hormon-hormon, menstruasi, masa subur, gairah seks, bagaimana menjaga kesehatan dan gangguan seperti PMS (penyakit menular seksual), dan bagaimana memfungsikannya secara optimal secara biologis. Dimensi Faal mencakup pengetahuan mengenai proses pembuahan, bagaimana ovum bertemu dengan sperma dan membentuk zigot dan seterusnya.
-Dimensi Psikologis Seksualitas berkaitan dengan bagaimana kita menjalankan fungsi kita sebagai mahluk seksual dan identitas peran jenis. Mengapa pria dipandang lebih agresif daripada wanita?
-Dimensi Medis adalah pengetahuan mengenai penyakit yang di oleh hubungan seks, terjadinya impotensi, nyeri, keputihan dan lain sebagainya.
-Dimensi Sosial Seksualitas berkaitan dengan hubungan interpersonal (hubungan antar sesama manusia). Seringkali, hambatan inleraksi ditimbulkan oleh kesenjangan peran jenis antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dipepgaruhi oleb faktor budaya dan idola asuh yang lebih memprioritaskan posisi laki-laki. Anggapan tersebut harus diluruskan. karena jenis kelamin tidak menentukan mana yang lebih baik atau berkualitas.
* Menurut WHO, istilah sex mengacu pada karakteristik fisiologis dan biologis yang menetapkan antara laki-laki dan wanita.
* Menurut Zawid (1994), kata sex sering digunakan dalam dua hal, yaitu: (a) aktivitas sexsual genital, dan (b) sebagai label jender (jenis kelamin). Sedangkan seksualitas memiliki arti yang lebih luas karena meliputi bagaimana seseorang merasa tentang bagaimana seseoarang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut terhadap orang lain melalui tindakan yang dilakukannya seperti, sentuhan, ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku yang lebih halus seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata.

v Identitas Gender
* Menurut WHO, mengacu pada peran sosial dibangun, perilaku, kegiatan, dan atribut bahwa suatu masyarakat tertentu dianggap layak untuk pria dan wanita.
* Untuk kata lain , laki-laki dan perempuan adalah kategori jenis kelamin, sedangkan maskulin dan feminine adalah kategori gender

v Orientasi seksual

* Menurut PPDGJ III, orientasi seksual adalah ketertarikan / dorongan / hasrat untuk terlibat secara seksual dan emosional (ketertarikan yang bersifat romantis).

* Jenis orientasi seksual iaitu:
Heteroseksual - ketertarikan romantik dan seksual terhadap pasangan yang berlainan seks

Biseksual - ketertarikan romantik dan seksual terhadap laki-laki dan wanita

Homoseksual - ketertarikan romantik dan seksual terhadap laki-laki sejenis

Gay (MSM) - Suatu label yang diberikan kepada lelaki yang mempunyai ketertarikan seksual kepada lelaki lain

Lesbian - Suatu label yang diberikan kepada kaum wanita yang mempunyai ketertarikan seksual kepada wanita yang lain

Transvestisme - Lelaki yang suka memakai pakaian wanita dan memamerkan diri. Dikenal sebagai waria.

• Transeksual - Perempuan atau lelaki yang merasai diri mereka tergolong pada seks yang berlainan. Mereka merasakan bahwa mereka mempunyai organ seksual yang salah, sehingga mereka menjalani pembedahan pertukaran seks

v Perilaku seksual

* Menurut Wahyudi (2000) merupakan perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku. Perilaku seksual yang sehat dan dianggap normal adalah cara heteroseksual, vaginal, dan dilakukan suka sama suka, dan tentu saja dalam ikatan suami istri. Sedangkan yang tidak normal (menyimpang) antara lain Sodomi, homoseksual,lesbian,dll.

* Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual, menurut Purnawan (2004) yang dikutip dari berbagai sumber antara lain:
a. Faktor Internal

1. Tingkat perkembangan seksual (fisik/psikologis)

Perbedaan kematangan seksual akan menghasilkan perilaku seksual yang berbeda pula. Misalnya anak yang berusia 4-6 tahun berbeda dengan anak 13 tahun.

2. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi

Anak yang memiliki pemahaman secara benar dan proporsional tentang kesehatan reproduksi cenderung memahami resiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksualnya

3. Motivasi

Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan atau termotivasi untuk memperoleh tujuan tertentu. Hersey & Blanchard cit Rusmiati (2001) perilaku seksual seseorang memiliki tujuan untuk memperoleh kesenangan, mendapatkan perasaan aman dan perlindungan, atau untuk memperoleh uang (pada gigolo/WTS)

b. Faktor Eksternal

1. Keluarga

Menurut Wahyudi (2000) kurangnya komunikasi secara terbuka antara orang tua dengan remaja dapat memperkuat munculnya perilaku yang menyimpang

2. Pergaulan

* Menurut Hurlock perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa pubertas/remaja dimana pengaruh teman sebaya lebih besar dibandingkan orangtuanya atau anggota keluarga lain.



v Penyimpangan seksual

* adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya.

* Macam-macam bentuk penyimpangan seksual, antara lain:
- Homoseksual adalah penyimpangan seksual di mana seseorang menyukai ornag lain sesama jenis. Pada laki-laki disebut gay dan pada wanita disebut lesbian / lesbi.
- Sadomasokisme adalah penyimpangan seksual dimana seseorang mendapat kenikmatan seks setelah menyakiti pasangan seksnya.
- Masokisme adalah penyimpangan seksual dimana seseorang menikmati seks jika terlebih dahulu disiksa oleh pasangannya.
- Ekshibisionisme adalah penyimpangan seksual dimana seseorang senang memperlihatkan alat vital / alat kelamin kepada orang lain. Penderita penyimpangan seksual ini akan suka dan terangsang jika orang lain takjub, terkejut, takut, jijik, dan lain sebagainya.
- Fetishisme adalah penyimpangan seksual dimana seseorang suka menyalurkan kepuasan seksnya dengan cara onani / masturbasi dengan benda-benda mati seperti gaun, bando, selendang sutra, bh, celana dalam, kaus kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan hasrat atau dorongan seksual.
- Voyeurisme adalah penyimpangan seksual dimana seseorang mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat atau mengintip orang lain yang sedang melakukan hubungan suami isteri (Scoptophilia), sedang telanjang, sedang mandi, dan sebagainya.
Pedophilia adalah penyimpangan seksual dimana seseorang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur –belum baligh-.
- Gerontophilia adalah penyimpangan seksual dimana seseorang suka melakukan hubungan seksual dengan orang usia lanjut (nenek2 / kakek2).
- Bestially adalah penyimpangan seksual dimana seseorang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain sebagainya.
- Zoofilia adalah penyimpangan seksual dimana seseorang senang dan terangsang melihat hewan melakukan hubungan seks dengan hewan.
- Incest adalah penyimpangan seksual dimana seseorang suka melakukan hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak cowok.
- Necrophilia adalah penyimpangan seksual dimana seseorang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah menjadi mayat / orang mati.
- Sodomi adalah penyimpangan seksual dimana seorang pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan.
- Frotteurisme adalah penyimpangan seksual dimana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum seperti di kereta, pesawat, bis, dll.

* Penyebab penyimpangan perilaku seksual adalah :
1. Genetik

2. Traumatik

3. Pola asuh yang salah

4. Lingkungan

5. Teman dekat

6. Film

7. Explorasi



Seputar masalah HomoseksualHomoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan/atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama secara situasional atau berkelanjutan. Pada penggunaan mutakhir, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan/atau hubungan sexual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama, yang bisa jadi tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai gay atau lesbian. Homoseksualitas, sebagai suatu pengenal, pada umumnya dibandingkan dengan heteroseksualitas dan biseksualitas. Istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks. Sedangkan Lesbian adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada wanita homoseks.

Definisi tersebut bukan definisi mutlak mengingat hal ini diperumit dengan adanya beberapa komponen biologis dan psikologis dari seks dan gender, dan dengan itu seseorang mungkin tidak seratus persen pas dengan kategori di mana ia digolongkan. Beberapa orang bahkan menganggap ofensif perihal pembedaan gender (dan pembedaan orientasi seksual).

Menurut V. Adsley, S.Psi, terdapat tiga aspek homoseksualitas, yaitu:

v orientasi seksual yang ditandai dengan kesukaan seseorang dengan orang lain mempunyai kelamin sejenis secara biologis atau identitas gender yang sama.

v perilaku seksual melingkupi aktivitas untuk menemukan dan menarik perhatian pasangan (perilaku mencari & menarik pasangan), interaksi antar individu, kedekatan fisik atau emosional, dan hubungan seksual dengan gender yang sama tidak peduli orientasi seksual atau identitas gender.

v identitas seksual atau identifikasi diri, yang mungkin dapat mengacu kepada perilaku homoseksual atau orientasi homoseksual. Aspek ini mengarah pada identitas seksual sebagai gay atau lesbian.

Tingkatan orientasi seksual berdasarkan skala Kinsey :

- Heteroseksual eksklusif : Heteroseksual
- Heteroseksual predominan : Heteroseksual lebih dominan.Homoseksualnya Cuma kadang-kadang
- Biseksual : Heteroseksual dan homoseksual Seimbang
- Homoseksual predominan : Homoseksual lebih dominant. Heteroseksualnya kadang-kadang
- Homoseksual eksklusif : Homoseksual

Prof. DR. Wimpie Pangkahila (Pakar Andrologi dan Seksologi), beberapa faktor penyebab orang menjadi homoseksual dapat dilihat dari :

1. Faktor Biologi
v Susunan Kromosom
Perbedaan homoseksual dan heteroseksual dapat dilihat dari susunan kromosomnya yang berbeda. Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom x dari ayah. Sedangkan pada pria mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom y dari ayah. Kromosom y adalah penentu seks pria.

Jika terdapat kromosom y, sebanyak apapun kromosom x, dia tetap berkelamin pria. Seperti yang terjadi pada pria penderita sindrom Klinefelter yang memiliki tiga kromosom seks yaitu xxy. Dan hal ini dapat terjadi pada 1 diantara 700 kelahiran bayi. Misalnya pada pria yang mempunyai kromosom 48xxy. Orang tersebut tetap berjenis kelamin pria, namun pada pria tersebut mengalami kelainan pada alat kelaminnya.

v Ketidakseimbangan Hormon
Seorang pria memiliki hormon testoteron, tetapi juga mempunyai hormon yang dimiliki oleh wanita yaitu estrogen dan progesteron. Namun kadar hormon wanita ini sangat sedikit. Tetapi bila seorang pria mempunyai kadar hormon esterogen dan progesteron yang cukup tinggi pada tubuhnya, maka hal inilah yang menyebabkan perkembangan seksual seorang pria mendekati karakteristik wanita.

v Struktur Otak
Struktur otak pada straight females dan straight males serta gay females dan gay males terdapat perbedaan. Otak bagian kiri dan kanan dari straight males sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Straight females, otak antara bagian kiri dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. Dan pada gay males, struktur otaknya sama dengan straight females, serta pada gay females struktur otaknya sama dengan straight males, dan gay females ini biasa disebut lesbian.

v Kelainan susunan syaraf
Berdasarkan hasil penelitian terakhir, diketahui bahwa kelainan susunan syaraf otak dapat mempengaruhi prilaku seks heteroseksual maupun homoseksual. Kelainan susunan syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tengkorak.

2. Faktor Psikodinamik, yaitu adanya ganguan perkembangan psikseksual pada masa anak-anak


3. faktor sosiokultural, yaitu adanya adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseksual dengan alasan yang tidak benar


4. faktor lingkungan, dimana memungkinkan dan mendorong hubungan para pelaku homoseksual menjadi erat.
Dari keempat faktor tersebut, penderita homoseksual yang disebabkan oleh faktor biologis dan psikodinamik memungkinkan untuk tidak dapat disembuhkan menjadi heteroseksual. Namun jika seseorang menjadi homoseksual karena faktor sosiokultural dan lingkungan, maka dapat disembuhkan menjadi heteroseksual, asalkan orang tersebut mempunyai tekad dan keinginan kuat untuk menjauhi lingkungan tersebut...

3 komentar:

Anonim mengatakan...

saya mau tanya..hukum islam tentang Interseks...secara keseluruhan.terima kasih

admin mengatakan...

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa para shahabat Rasulullah bersepakat agar pelaku homoseks dibunuh, tidak ada dua orang pun dari mereka yang berselisih tentangnya.

Hanya saja mereka berselisih tentang cara membunuhnya.

Sebagian Hanabilah menukil ijma’ (kesepakatan) para shahabat bahwa hukuman bagi pelaku homoseks dibunuh. Mereka berdalil dengan hadits:
“مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمَ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَ الْمَفْعُوْلَ بِهِ”
“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya.“
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahlus Sunan dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya. Imam Ahmad berpendapat dengannya dan sanad hadits ini sesuai dengan syarat dua Syaikh (Al-Bukhari dan Muslim).

Mereka juga berdalil dengan apa yang diriwayatkan dari Ali bahwasanya beliau merajam orang yang melakukan perbuatan ini.
Al-Imam Asy-Syafi’i berkata,
” وَبِهَذَا نَأْخُذُ بِرَجْمِ مَنْ يَعْمَلُ هَذَا الْعَمَلَ مُحْصَنًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُحْصَنٍ “
“Maka dengan (dalil) ini, kami menghukum orang yang melakukan perbuatan homoseks dengan rajam, baik ia seorang yang sudah menikah maupun belum.“

Begitu juga dengan riwayat dari Khalid bin Al-Walid bahwa beliau mendapati di sebagian daerah Arab, seorang lelaki yang disetubuhi sebagaimana disetubuhinya seorang wanita. Lalu, beliau menulis (surat) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq tentangnya, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta nasihat kepada para shahabat. Maka yang paling keras perkataannya dari mereka ialah Ali bin Abi Thalib yang berkata,
” مَا فَعَلَ هَذَا إِلاَّ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنَ الأُمَمِ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلَ اللهُ بِهَا، أَرَى أَنْ يُحْرَقَ بِالنَّارِ “
“Tidaklah ada satu umat pun dari umat-umat (terdahulu) yang melakukan perbuataan ini, kecuali hanya satu umat (yaitu kaum Luth) dan sungguh kalian telah mengetahui apa yang Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat atas mereka, aku berpendapat agar ia dibakar dengan api.”
Lalu, Abu Bakar menulis kepada Khalid, kemudian Khalid pun membakar lelaki itu.

Abdullah bin Abbas berkata,
” يُنْظَرُ إِلَى أَعْلَى بِنَاءٍ فِي الْقَرْيَةِ، فَيُرْمَى اللُّوْطِيُّ مِنْهُ مُنَكِّبًا، ثُمَّ يُتَّبَعُ بِالْحِجَارَةِ “
“Ia dinaikkan ke atas bangunan yang paling tinggi di satu kampung, kemudian dilemparkan darinya dengan posisi pundak di bawah, lalu dilempari dengan bebatuan.”
Abdullah bin Abbas mengambil hukuman seperti ini dari hukuman yang AllahSubhaanahu wa ta’ala timpakan kepada kaum Luth dan Abdullah bin Abbaslah yang meriwayatkan sabda Nabi ` ,
“مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمَ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَ الْمَفْعُوْلَ بِهِ”
“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya.“[3]
.....

admin mengatakan...

...Kesimpulannya adalah ada yang berpendapat dibakar dengan api, ada yang berpendapat dirajam dengan bebatuan, ada yang berpendapat dilemparkan dari tempat yang sangat tinggi, lalu dilempari dengan bebatuan, ada yang berpendapat dipenggal lehernya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, dan ada juga yang berpendapat ditimpakan (diruntuhkan) tembok kepadanya.

Adapun Al-Allamah Asy-Syaukani menguatkan pendapat agar pelaku Liwath dibunuh dan beliau melemahkan pendapat-pendapat selain itu.
Sesungguhnya mereka menyebutkan masing-masing cara pembunuhan bagi pelaku homoseks karena Allah Subhaanahu wa ta’ala telah mengazab kaum Luth dengan semua itu.
”Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Hud [11]: 82-83)
Yang dimaksud dengan kata مَنْضُوْدٍ (bertubi-tubi) ialah saling mengikuti, yang satu dengan yang lain saling mengikuti bagaikan hujan. sedangkan kata مُسَوَّمَةً (diberi tanda) maksudnya ialah memiliki ciri yang tidak menyerupai batu-batu di dunia atau ditandai dengan nama orang yang berhak dilempar dengannya. Hukuman itu sesuai dengan perbuatan dosa yang keji dan buruk, silahkan pelaku gay memilih dari hukuman yang bermacam-macam tersebut sekehendaknya. Kemudian setelah kematiannya, ia tidak tahu apa yang akan Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat terhadapnya.

Sungguh telah datang (kabar) bahwa:
“أَرْبَعَةٌ يُصْبِحُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ ويُمْسُونَ فِي سَخِطَ اللَّهِ”، قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ : “وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟” قَالَ:”الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ، وَالَّذِي يَأْتِي الْبَهِيمَةَ، وَالَّذِي يَأْتِي الرِّجَالَ”
“Ada empat golongan yang di pagi hari mereka berada dalam kemarahan AllahSubhaanahu wa ta’ala dan di sore hari mereka berada dalam kemurkaan-Nya.” Abu Hurairah berkata: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau ` menjawab: “Para lelaki yang menyerupai wanita, para wanita yang menyerupai lelaki, orang yang menyetubuhi binatang, dan lelaki yang menyetubuhi lelaki.”[4]

------------
[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad 1/300 dan lihat Shahih Al-Jaami’: 6565.
[4] Hadits ini dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi dengan sanad yang di dalamnya terdapat Muhammad bin Salam Al-Khuza’i, ia tidak diketahui keadaannya, dari bapaknya, dari Abu Hurairah. Berkata Al-Bukhari, “Muhammad bin Salam haditsnya tidak diikuti.” Lihat Miizaan Al-I’tidaal karya Adz-Dzahabi (3/567).

SUMBER : Buku “SEKS BEBAS UNDER COVER” Penerbit TooBagus Publishing Bandung
Judul Asli : Wa Laa Taqrobul Fawaahis, Penulis Syaikh Jamal bin Abdurrahman Ismail dan DR. Ahmad Nida, penerjemah Syuhada Abu Syakir, Editor Medis dr.Abu Hana